Friday, 13 May 2016

Apakah kita menjamin jika telah mendapatkan apa yang di inginkan kita tidak akan mengeluh lagi.



Keinginan itu ibaratkan harapan akan sesuatu yang di dorong oleh keadaan tertentu dan juga hanya sekilas keinginan yang terlintas dalam hati. Terkadang sadar atau tidak, banyak masalah yang datang akibat dari suatu keinginan pada diri seseorang. Masalah memanglah tidak dapat di hindari dalam artian jika masalah tersebut adalah masalah yang memang wajib di atasi. Seperti kebutuhan pokok atau yang berkaitan dengan kemajuan hidup ke arah yang lebih baik. Tapi ada masalah yang terkadang tidak terlalu penting sehingga masalah yang wajib terkadang terabaikan atau tidak teratasi dengan baik. Seperti contoh ikut-ikutan membeli sesuatu yang terbilang populer saat itu, padahal dia tahu bahwa dia masih punya masalah yang lebih penting untuk di selesaikan. Tapi karena takut kalah saing dengan teman-teman, akhirnya gengsi tetap di turutkan. Sebenarnya masalah seperti itu masih bisa di hindari, tapi sadar atau tidak sadar semua itu sudah menjadi kebutuhan banyak orang. Karena semua itu menyangkut faktor gengsi yang menjadi sebuah tolak ukur dalam suatu pandangan sosial. Baca juga ketika hidup terasa sunyi.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, Apakah kita menjamin jika telah mendapatkan apa yang di inginkan kita tidak akan mengeluh lagi.

Bahkan saya mengatakan bahwa dengan tidaknya kita mendapatkan sesuatu, kita pun tidak boleh mengeluh. Karena asalkan kita tahu bahwa mengeluh adalah faktor dari tidak bisanya seseorang menerima keadaan tertentu. Seperti contoh yang diatas tadi bahwa faktor gengsi akan membuat seseorang sulit untuk menerima apa yang ada saat sesuatu yang ada pada orang lain lebih terbilang atau di pandang bagus dari pada kepunyaannya. Setidaknya seseorang yang seperti itu jika tidak bisa melebihi tapi masih bisa menyamai. Inilah permasalahan besar dalam kehidupan yang telah merajalela di dunia ini. Belumlah seseorang itu di katakan bahagia jika ia masih sibuk dengan memikirkan kehidupan orang lain tapi lupa untuk mencari ketenangan hidup dengan menghargai dan menerima atas apa yang di usahakan.

Apa yang engkau punya tidaklah begitu buruk dari kepunyaannya.

Perlu kita menyadari bahwa sebuah kepunyaan itu akan memiliki nilai dari seberapa bermanfaatkah barang kepunyaan yang di miliki tersebut. Jadi semua itu bergantung dari kegunaan dari pemiliknya. Contohnya anda mempunyai sebuah kendaraan yaitu sepeda motor, lalu teman anda mempunyai mobil. Kita sama-sama mengetahui bahwa apa yang anda dan teman anda punya itu adalah alat transportasi untuk mempercepat dan lebih menghemat waktu. Tapi teman anda memakai mobilnya karena tuntutan pekerjaan yang di haruskan untuk memakai mobil. Bahkan lebih konyol lagi terkadang teman anda menggunakannya hanya untuk yang tidak terlalu penting, sepeti untuk sekedar pergi jalan-jalan. Sedangkan anda mungkin tidaklah terlalu penting jika anda memiliki atas apa yang menjadi kepunyaan teman anda, karena anda masih bisa berangkat bekerja walaupun hanya menggunakan sepeda motor. Asalkan jangan yang sering-sering rusak, hehehe becanda kok. Kalau memang seperti itu kenyataannya, maka perbandingan sebuah kepunyaan tersebut di nilai dari seberapa manfaat yang akan di dapatkan. Bukan hanya sekedar gengsi belaka.

No comments:

Post a Comment

Jika ada yang ingin menanggapi atau bertanya silahkan berkomentar.